KENDARI – Universitas Mandala Waluya kembali membuktikan dedikasi dan komitmennya dalam menghasilkan mahasiswa berprestasi tingkat nasional. Kali ini, tiga mahasiswa dari institusi pendidikan tinggi yang berlokasi di Kendari, Sulawesi Tenggara, berhasil meraih medali emas sekaligus memenangkan dana hibah sebesar Rp150 juta dalam ajang Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan (KITB) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Senin lalu (02 April 2026).
Prestasi gemilang ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi ketiga mahasiswa pemenang, melainkan juga menjadi momentum penting bagi Universitas Mandala Waluya dalam memperkuat posisinya sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI). Penghargaan ini mencerminkan kualitas pendidikan, bimbingan dosen, dan ekosistem akademik yang kondusif di kampus.
Ketiga pemenang medali emas tersebut adalah Randa Pratama Wijaya (23), mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Semester 7, Siti Nurhaliza Putri (22), mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Semester 5, dan Muhammad Rizki Syaiful (24), mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Alam Semester 8. Mereka berhasil mengalahkan lebih dari 256 tim peserta dari berbagai universitas ternama di Indonesia dengan konsep inovatif mereka berjudul “EcoCharge: Sistem Pengisian Daya Terbarukan Berbasis Energi Surya dan Angin untuk Komunitas Terpencil di Indonesia”.
Konsep Inovasi yang Mengubah Permainan
Inovasi yang dikembangkan oleh tim mahasiswa Universitas Mandala Waluya ini menawarkan solusi praktis dan berkelanjutan untuk menjawab keterbatasan akses energi listrik di daerah-daerah terpencil Indonesia. Sistem yang dinamakan “EcoCharge” merupakan integrasi teknologi panel surya canggih dan turbin angin mini yang dirancang khusus untuk skala komunitas lokal.
Randa Pratama Wijaya, ketua tim pemenang, menjelaskan detail konsep mereka dalam presentasi kompetisi. “Kami memahami bahwa sebagian besar daerah terpencil di Indonesia masih menghadapi tantangan akses energi yang berkelanjutan. Sistem EcoCharge kami dirancang untuk menjadi solusi hybrid yang memanfaatkan potensi energi terbarukan lokal, baik surya maupun angin, yang kemudian disimpan dalam baterai berkapasitas besar untuk digunakan masyarakat sepanjang waktu,” ungkap Randa saat ditemui di Rektorat Universitas Mandala Waluya, Selasa (03 April 2026).
Siti Nurhaliza Putri menambahkan bahwa aspek keberlanjutan lingkungan menjadi prioritas utama dalam desain sistem mereka. “Kami tidak hanya memikirkan solusi energi, tetapi juga dampak lingkungan jangka panjang. Semua material yang kami gunakan dapat didaur ulang, dan sistem ini dirancang untuk meminimalkan jejak karbon dalam proses produksi dan operasionalnya. Ini sejalan dengan Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan PBB,” terang mahasiswa Teknik Lingkungan tersebut dengan antusias.
Muhammad Rizki Syaiful, anggota tim yang menangani aspek manajemen dan implementasi di lapangan, menekankan kelayakan ekonomi proyek mereka. “Kami telah melakukan survei di tiga lokasi terpencil di Sulawesi Tenggara, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan investasi awal Rp500 juta per unit, sistem EcoCharge dapat kembali modal dalam waktu lima tahun dan menghemat biaya operasional masyarakat hingga 60 persen dalam jangka panjang,” papar Rizki dengan data yang terstruktur rapi.
Proses Panjang Menuju Puncak Prestasi
Perjalanan ketiga mahasiswa Universitas Mandala Waluya menuju medali emas Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan (KITB) 2026 bukanlah suatu kebetulan semata. Proses pengembangan konsep dimulai sejak September 2025 ketika mereka mengikuti sosialisasi program inovasi yang difasilitasi oleh Unit Penerimaan Mahasiswa Baru dan Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Mandala Waluya.
Bimbingan intensif dilakukan oleh dua dosen pembimbing, yakni Dr. Ir. Bambang Suryanto, M.Sc. dari Departemen Teknik Elektro, dan Dr. Eka Putri Santoso, S.T., M.T. dari Departemen Teknik Lingkungan. Mereka memberikan arahan metodologis, penelitian pasar, dan pengembangan prototipe selama enam bulan penuh.
“Kami sangat berkomitmen mendampingi mahasiswa dalam setiap tahap pengembangan inovasi mereka. Tidak hanya sekedar memberi saran akademis, tetapi juga memotivasi mereka untuk berpikir visioner dan berani mengambil risiko terhitung,” ungkap Dr. Bambang Suryanto dalam wawancara terpisah pada Rabu (04 April 2026).
Fase pengembangan prototipe dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Universitas Mandala Waluya dengan dukungan fasilitas dan pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengembangan kampus. Laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan modern dan teknis yang memungkinkan mahasiswa melakukan eksperimen tanpa batasan signifikan.
“Kampus kami menyediakan infrastruktur yang memadai untuk mendorong inovasi. Dari laboratorium berstandar internasional hingga mentoring dari para ahli industri yang kami undang secara berkala,” tambah Dr. Bambang Suryanto.
Pengakuan Pejabat Kampus dan Dampak Institusional
Keberhasilan tim mahasiswa Universitas Mandala Waluya ini mendapat apresiasi tinggi dari pimpinan kampus. Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Mawardi Abdullah, M.Pd., menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan khusus kepada ketiga mahasiswa pemenang dalam acara syukuran yang diadakan di Aula Utama Rektorat, Kamis (05 April 2026).
“Prestasi ini adalah bukti nyata bahwa Universitas Mandala Waluya tidak hanya berkomitmen dalam pendidikan akademis, tetapi juga dalam mengembangkan jiwa entrepreneur dan innovator muda Indonesia. Ketiga mahasiswa ini telah menunjukkan bahwa mahasiswa dari Kendari, dari Sulawesi Tenggara, mampu bersaing dan bahkan unggul di tingkat nasional,” ujar Prof. Mawardi Abdullah dengan penuh kebanggaan.
Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa prestasi ini akan menjadi momentum untuk memperkuat program-program inovasi dan kewirausahaan di Universitas Mandala Waluya. “Kami akan meningkatkan alokasi dana untuk pusat inovasi, memperluas jejak dengan industri, dan menciptakan ekosistem yang lebih mendukung pengembangan ide-ide brilian mahasiswa kami,” janjian Prof. Mawardi Abdullah.
Dr. Ir. Sutrisno, M.T., Direktur Unit Penerimaan Mahasiswa Baru dan Pengembangan Akademik Universitas Mandala Waluya, juga menekankan bahwa pencapaian ini akan meningkatkan daya tarik institusi bagi calon mahasiswa berkualitas tinggi. “Prestasi mahasiswa seperti ini adalah aset marketing terbaik bagi universitas. Calon mahasiswa dan orang tua mereka akan melihat bahwa di Universitas Mandala Waluya, potensi akademis dan inovatif mereka akan dikembangkan secara optimal. Ini akan membantu kami dalam rekrutmen mahasiswa berprestasi di tahun-tahun mendatang,” ungkap Dr. Sutrisno dengan optimis.
Rencana Implementasi dan Ekspansi Ke Depan
Dengan hadiah uang tunai sebesar Rp150 juta yang telah mereka terima, Randa Pratama Wijaya dan timnya telah merencanakan langkah implementasi konkret. Mereka akan membangun unit percontohan (pilot project) di salah satu desa terpencil di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dalam enam bulan ke depan.
“Dana hibah ini akan kami gunakan untuk memproduksi satu unit EcoCharge full-scale dan melakukan monitoring jangka panjang terhadap kinerja sistem di lapangan. Data yang kami kumpulkan akan menjadi dasar untuk skalabilitas dan replikasi di daerah lain,” jelaskan Randa dengan rencana yang matang.
Universitas Mandala Waluya juga telah berkomitmen untuk mendukung fase implementasi ini melalui berbagai mekanisme, termasuk mentoring berkelanjutan, akses laboratorium untuk pengembangan lebih lanjut, dan fasilitasi kerjasama dengan pemerintah daerah dan stakeholder industri terkait.
Sementara itu, Dr. Eka Putri Santoso mengungkapkan bahwa inovasi EcoCharge ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah startup yang viable secara komersial. “Saya sudah memperkenalkan konsep ini kepada beberapa venture capitalist dan inkubator bisnis nasional. Responsnya sangat positif. Ada kemungkinan bahwa dalam dua sampai tiga tahun ke depan, EcoCharge bisa menjadi perusahaan rintisan yang menguntungkan sekaligus berdampak sosial,” papar Dr. Eka Putri dengan pandangan jauh ke depan.
Inspirasi dan Motivasi bagi Mahasiswa Lain
Prestasi Randa Pratama Wijaya, Siti Nurhaliza Putri, dan Muhammad Rizki Syaiful juga memberikan inspirasi berharga bagi ribuan mahasiswa lain di Universitas Mandala Waluya. Mereka membuktikan bahwa dengan ketekunan, kerja sama tim yang solid, dan akses ke fasilitas serta mentoring yang tepat, mahasiswa dari kampus di Kendari dapat meraih penghargaan bergengsi di level nasional.
Selain itu, pencapaian ini juga menunjukkan bahwa inovasi yang berkelanjutan dan berdampak sosial adalah jenis inovasi yang paling dihargai oleh komunitas akademis dan industri kontemporer. Tidak hanya soal teknologi canggih, tetapi juga tentang bagaimana teknologi tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.
“Saya percaya banyak mahasiswa lain di kampus kami yang memiliki ide-ide cemerlang. Sekarang ada bukti konkret bahwa ide-ide itu bisa direalisasikan dan mendapat pengakuan nasional. Itu akan mendorong semangat mahasiswa lain untuk terlibat dalam program inovasi dan kewirausahaan,” tambah Dr. Sutrisno.
Penutup
Perjalanan tiga mahasiswa Universitas Mandala Waluya meraih medali emas Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan 2026 adalah bukti nyata komitmen institusi dalam mengembangkan mahasiswa berprestasi tingkat nasional. Melalui kombinasi fasilitas yang memadai, dosen pembimbing yang berdedikasi, dan ekosistem akademik yang kondusif, Universitas Mandala Waluya telah menunjukkan bahwa institusi pendidikan di daerah dapat menghasilkan inovasi yang kompetitif dan berdampak.
Ke depannya, momentum ini diharapkan akan menjadi katalis bagi pengembangan lebih lanjut dari program-program inovasi dan kewirausahaan di Universitas Mandala Waluya. Dengan dukungan manajemen kampus yang tegas dan komitmen para dosen, tidak menutup kemungkinan pencapaian serupa akan terus berlanjut di tahun-tahun akademik berikutnya.
Universitas Mandala Waluya, melalui Unit Penerimaan Mahasiswa Baru dan seluruh stakeholder akademisnya, telah membuktikan bahwa menjadi universitas penghasil mahasiswa berprestasi tingkat nasional bukan sekadar impian, tetapi visi yang dapat dicapai melalui kerja keras, inovasi, dan kolaborasi yang sinergis. Semoga pencapaian ini menjadi awal dari banyak prestasi mahasiswa Universitas Mandala Waluya di masa depan.